Sekali Mengikuti Diklat, Dua Tiga Pulau Terlewati
Sungguh luar biasa animo peserta diklat Penguatan Kemampuan Pengawas Sekolah yang digelar di
”Kami harus menyeberang hingga beberapa pulau untuk tiba di
Diklat selama 6 hari yang dimulai sejak 27 September hingga 2 Oktober 2010 ini diikuti oleh 215 peserta yang terdidir dari 5 kabupaten/kota di Kendari. Yakni, Konawe Selatan (Konsel), Muba, Kolaka, Bombana, Wakatobi. Khusus Wakatobi, jarak yang ditempuh untuk menuju ke lokasi, yakni di LPMP Sulawesi Tenggara, memang cukup sulit.
”Peserta dari Wakatobi harus melalui 3 hingga 4 pelabuhan untuk tiba di
Kabupaten Wakatobi memang merupakan kawasan yang terdiri dari pulau-pulau yang untuk menghubungkannya memerlukan sarana transportasi laut menggunakan kapal fery atau kapal cepat. Wakatobi sendiri merupakan singkatan dari nama 4 pulau besar, yakni Pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Pulau Binongko.
Meski menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, animo peserta tetap tinggi. Terhitung, dari 215 peserta, hanya 4 orang peserta saja yang tidak hadir. ”Jujur saja, sudah lama sekali tidak ada kegiatan-kegiatan diklat seperti ini untuk pengawas,” aku seorang peserta di hadapan Kepala Pusat (Kapus) PPPPTK TK dan PLB, Dra. Hj. Teriska R. M.Ed. Untuk itu, Kapus menegaskan kepada peserta agar para pengawas senantiasa menambah ilmu pengetahuan dan wawasannya. ”Masa nanti pengawas kalah sama guru-guru,” ujarnya dalam sambutannya yang sekaligus membuka acara Diklat tersebut.
Diklat Penguatan Kemampuan Pengawas Sekolah mengacu pada Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 Tentang Guru dan Permendiknas Nomor 12 tahun 2007 Tentang Standar Kompetensi Pengawas Sekolah/Madrasah. Untuk itulah, dibuat suatu program yang diselenggarakan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan melalui PPPPTK dan LPMP dengan tujuan untuk penguatan kompetensi pengawas sekolah.
Seperti dikutip dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 tentang Guru pasal 15 ayat (4) huruf (d) dinyatakan bahwa kewajiban guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan adalah melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan tugas pengawasan. Oleh sebab itu, tugas pengawas satuan pendidikan adalah (1) melakukan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial dan (2) melakukan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dalam melaksanakan tugas pokoknya yaitu merencanakan, melaksanakan, dan menilai proses pembelajaran atau pembimbingan. Dengan kata lain pengawas sekolah berkewajiban untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan tenaga kependidikan lainnya.
Adapun materi-materi yang disampaikan berkisar mengenai PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan), PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dan materi-materi kepengawasan lainnya. Sedangkan yang menajadi narasumber atau fasilitator merupakan tim dari PPPPTK TK dan PLB Bandung dibantu oleh para Widyaiswara LPMP Sulawesi Tenggara.
Selama kegiatan berlangsung, semua materi yang disajikan fasilitator dilahap dengan antusias oleh para peserta. Hal ini tentaunya menambah semangat para fasilitator dalam memberikan materi.
”Sunggu luar biasa, peserta semuanya semangat sekali meski di sini sanagat panas,” aku Dr Benny Iskandar, salah seorang fasilitator dari PPPTK TK dan PLB.
Ya, panasnya suhu
Kota Kendari Sepanas Ikan Baronang dan Sunu Bakar
Panas. Kata itulah yang langsung terucap saat tim PPPPTK TK dan PLB tiba di bandara Haluoleo, Kota Kendari Sulawesi Tenggara, Minggu (26/10/2010). Tim yang dipimpin langsung oleh Kepala Pusat PPPPTK TK dan PLB, Ibu Dra Hj. Teriska R, M.Ed mendarat di Bandara yang dulu bernama Wolter Monginsidi ini pada pukul 16.00 WITA.
Bandara Haluoleo, memang cukup sulit melafazkannya. Namun ternyata kata Haluoleo memiliki makna tersendiri di masyarakat Kendari. Saya pun menjadi penasaran. Setelah berbincang-bincang sejenak dengan seorang supir taxi, ternyata kata Haluoleo jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah delapan hari. Maksudnya merujuk pada sejarah dimana Raja yang hidupnya hanya bertahan selama delapan hari. Kata inilah yang akhirnya diabadikan menjadi nama bandara di provinsi Sulawesi Tenggara menggantikan nama sebelumnya, yakni Woltermonginsidi. Bandara Woltermonginsidi sendiri tetap ada, namun peruntukkannya kini hanya untuk TNI AU, sementara Haluoleo untuk bandara umum dan komersial.
Tim pun akhirnya tiba di lokasi, yakni LPMP Sulawesi Tenggara yang ternyata tidak begitu jauh dari bandara. Dengan dibantu oleh tim LPMP Sultra, seluruh rombongan dapat terangkut sampai tujuan dengan selamat. Namun, belum cukup melepas lelah, sebuah tawaran menggoda yang tidak mungkin dilwatkan. Apalagi kalau bukan makan menu khas Kendari.
Kurang dari 10 menit rombongan akhirnya singgah di sebuah rumah makan tapat di bibir pantai. Perut yang sudah keroncongan disambut oleh tumpukan ikan segar dan besar, udang segar, cumi dan hidangan laut lainnya. Sudah terbayang kelezatan menu yang akan disantap malam ini. Ya, apalagi kalau bukan ikan dan udang bakar. Saya memilih ikan Baronang sementara rekan-rekan lainnya memilih ikan Sunu dan udang untuk dibakar. ”Kalau ke
Ikan Sunu, satu lagi yang asing bagi saya. Kalau ikan Baronang sudah umum dan banyak dijumpai. Namun ikan Sunu, apa itu? Ternyata dari bentuknya, hamper mirip ikan Kakap dengan tekstru berwarna merah. Satu persatu ikan-ikan pesanan pun digelar dijejer dipemanggangan. Kontan asap serta aroma sedap bakaran ikan langsung terhirup. Hmmmm semakin memancing lambung dan usus dalam perut untuk bereaksi. Kalau sudah begini, otak-otak ikan hangat di meja menjadi korban. Hap…hap, seluruh rombongan larut menikmati lezatnya otak-otak. ”Sambil nunggu ikan matang,” timpal rekan-rekan sambil terus merobek lembaran-lembaran daun pisang pembungkus otak-otak.
Namun itu tidak bertahan lama. Karena hidangan utama, yakni ikan dan udang pesanan kami sudah hadir di depan mata. Uniknya, pengunjung di rumah makan ini diberi kebebasan untuk membuat sambal sendiri. Well, tak heran jika di meja terdapat pisau, bawang, tomat, serta cabai untuk kita olah. Setelah meracik sambal buatan sendiri, rombongan mulai menyantap ikan-ikan dan udang yang malam itu benar-benar pasrah untuk masuk ke dalam perut.
Ikan barongan segar yang dibakar membuat taste daging ikan begitu halus, tidak berbau amis, dan nikmat sekali. Belum lagi udang bakar yang begitu besar ukurannya. Dipadu dengan lalapan timun dan sepiring nasi hangat, begitu mengajak mulut untuk terus mengunyah dan menguyah. Megutip jargon dari salah satu acara kuliner terkenal di stasiun televisi, Mak Nyuss…!!! Panasnya suhu
jalan-jalan mulu nih...
BalasHapuseiiitzz.....baru jg pertama kali.... setelah bertaun2 jadi PNS
BalasHapus