Rabu, 27 Oktober 2010

Dari Angin Kencang Hingga BBB

Dari Angin Kencang Hingga BBB

Makasar. Siapa yang tak kenal kota yang satu ini. Merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan menyimpan banyak potensi dan keindahan tersendiri bagi yang pernah mengunjunginya. Beruntung sekali penulis kembali menuju kota yang dulu terkenal dengan nama Ujung Pandang ini.

Nama Makasar sendiri, berdasarkan hasil ”ngobrol santai” ternyata berasal dari sebuah kata yang dalam bahasa Makassar yaitu "mangkasara". Artinya menampakkan diri atau yang bersifat terbuka. Selepas tahun 2000 lah baru nama Kota Makasar dikenal. Karena, sebelumnya kota Makasar bernama Ujung Pandang yang dipakai kira-kira tahun 1950 sampai tahun 2000.

Perjalanan penulis menuju Makasar kali ke dua ini dalam rangka penugasan untuk menyelenggarakan Diklat Penguatan Kompetensi Pengawas. Khusus untuk Sulawesi Selatan, acara digelar dari tanggal 4 sampai dengan 9 Oktober 2010 bertempat di Hotel Khadijah, Kota Makasar. Pengawas yang terlibat adalah khusus pengawas sekolah TK-SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB, SMK/SMKLB. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi peningkatan kompetensi supervisi akademik, dimana pengawas sekolah akan memiliki kemampuan membimbing atau melatih guru dalam melaksanakan proses pembelajaran atau pembimbingan yang dapat menumbuhkembangkan potensi siswa agar lebih kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah, berpikir kritis, dan berjiwa wirausaha.

Diganggu Cuaca Buruk

Pagi itu, Senin (04/10) cuaca cerah menyelimuti kota Bandung. Pertanda baik untuk memulai perjalanan. Tepat pukul 06.00 pagi tim panitia Makasar I yang terdiri dari, Haryana, Teti Nurhadiyati, Eko Haryono, Niknik, Euis Romla, Rusmin, Cucuy, Dindin K, Yayan Yanuar, Asep Tiswa mulai meningalkan ”kampus Cipto 9”. Perjalanan sendiri cukup lancar hingga tanpa terasa iringan kendaraan tim mulai memasuki bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Jarum jam menunjukkan pukul 10.00. Namun ada sesuatu yang mengganjal pikiran. Awan pekat yang menyelimuti sekitaran bandara membuat ”deg-degan”.

”Tanda-tanda mau hujan lebat” gumamku. Saat itu memang cuaca di sekitar Jakarta cukup buruk. Sebagian diliputi awan mendung yang cukup pekat, tak jarang petir pun menghiasi angkasa bak goresan pena melukis guratan di gelapnya awan. ”Kalau begini terus, bisa-bisa delay nih pesawat,” gerutu Pak Dindin.

Benar saja apa yang dikhawatirkan, sesaat setelah memasuki pesawat, awan geap yang diikuti hujan lebat serta angin yang sangat kencang menerpa landasan bandara. Pemandangan yang tidak ingin saya dan teman-teman lain lihat. Terutama dari dalam pesawat. Angin kuat menyapu Bandara hingga tidak jelas apa yang terlihat dari kaca jendela pesawat. Akibatnya jadwal pesawat yang seharusnya berangkat diundur menunggu hujan mereda. Cukup lama pesawat diam tidak bergerak. Tumpahan air hujan bahkan sangat terdengar keras di atap pesawat diiringi gemuruh halilitan serta hembusan angina. Tidak ada yang bias dilakukan selain berdoa memohon pada sang Khalik untuk memperlancar perjalanan. Setelah 45 menit lebih, udara mulai membaik. Meski hujan masih turun, namun awan gelap perlahan pergi. Angin pun tidak ada lagi. Saat itu pula pramugari mengumumkan penerbangan siap untuk dilakukan. Dan pesawat pun take off menuju Kota Makasar. Kurang lebih dua jam perjalanan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanudin, Makasar.

Sekitar pukul 15.00 WITA sampailah tim di Bandara International Hasanudin, Makasar. Tim dengan sigap langsung mengamankan barang bawaan yang berjumlah hampir 15 buah dus besar-kecil, terutama sekali notebook dan infocus yang mesti dijaga ekstra ketat. ”Bilih kerok kakantun” tegas pak Dindin. Setelah berkoordinasi dengan pihak hotel, akhirnya rombongan akhirnya tiba di lokasi.

Data Tak Akurat, Banyak Peserta Tak Terpanggil

Diklat Penguatan Kompetensi Pengawas. Khusus untuk Sulawesi Selatan diikuti oleh para pengawas sebanyak 212 orang. Peserta berasal dari beberapa kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, setelah dilakukan registrasi ternyata hanya 180 orang yang hadir. Ini terjadi kurang akuratnya data yang diterima dari LPMP Sulawesi Selatan sehingga beberapa orang pengawas yang berasal dari Kabupaten Selayar tidak terpangil. ”Data yang kita terima dari LPMP tidak akurat, jadi ada yang tidak terpanggil,” jelas Pak Haryana, ketua panitia Makasar I.

Walaupun, ada peserta yang tidak hadir namun tetap saja jumlah 180 orang bukanlah jumlah yang sedikit. Diperlukan ketelatenan kerja panitia untuk bisa mengelola kegaiatan ini dengan tertib.

Kegiatan sendiri secara resmi dibuka oleh Ibu Kepala PPPPTK TK dan PLB, Ibu Hj. Dra Teriska, R, M.Ed. Pembukaan juga dihadiri oleh jajaran pejabat dari LPMP Sulawesi Selatan yang diwakilkan oleh Kepala Bidang LPMP Sulsel, bapak Rusdi. Dihadiri juga oleh Penaggungjawab Struktural Kegiatan, Dr Lina Herlina, M.Ed serta para fasilitator dari PPPPTK T K dan PLB.

Dalam pembukaannya, Ibu Teriska berharap peserta dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari pelaksanaan kegiatan. Pada kegiatan inti, dikembangkan kegiatan-kegiatan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi, dengan berorientasi PAIKEM dengan pendekatan andragogi. Sedangkan pada kegiatan eksplorasi, fasilitator mengetengahkan permasalahan-permasalahan yang dijadikan pemicu sehingga peserta diklat dapat mengeksplorasikan apa yang telah dipahami dan dikuasinya. Kegiatan elaborasi dapat dilakukan antara lain melalui metode diskusi, demonstrasi, simulasi, pemecahan masalah, games, serta metode lainnya. Adapun kegiatan konfirmasi dilakukan untuk memberikan penguatan terhadap penguasaan materi yang telah dibahas. ”Meski banyak kegiatannya, saya harap semua peserta tetap semangat,” ujar ibu Kapus.

BBB (Bukan Bakso Biasa)

Menyebut kota Makasar tentu ingat akan Coto Maksar atau Sop Konro. Ah itu sudah biasa. Di kota-kota lain juga sudah banyak yang menjual menu khas Makasar tersebut. Namun kalau menyebut nama ”Bakso Kreunyeus”. Hmm, Anda tentu penasaran !

Ya, menu bakso ini bukan sembarang bakso. Berbeda dengan bakso-bakso yang biasa kita jumpai. Lalu apa sih yang membedakannya ? Saya pun penasaran. Siang itu, saya dan rekan-rekan panitia mencoba menu yang katanya bikin lidah ”bergoyang” itu. Dari penampilan tidak ada bedanya dari bakso-bakso pada umumnya. Bakso disajikan dalam mangkuk berisi kuah dengan campuran mie dan sayuran. Aroma khas langsung terendus di hidung merangsang rasa lapar untuk segera menyantapnya. Sendok pun langsung diarahkan kepada daging bakso yang bikin kami penasaran. Hmm, dan benar saja, baksonya betul-betul terasa nikmat. Terdapat rasa yang khas yang membuat lidah saya tak henti-hentinya mengunyah. Rasa khas yang terletak pada perasan jeruk nipis yang ternyata ditambahkan dalam bakso. Ya, tentu kita tahu bagaimana segarnya dan tajamnya aroma jeruk nipis atau jeruk lemon ini. Rasa khas jeruk lemon inilah membuat rasa daging bakso yang khas menjadi tak kentara oleh wangi jeruknya. Hingga semakin lezat disantap. Ditambah dengan gurihnya kuah yang membuat klop di mulut.

”Ini baru BBB pak. Tapi iyeu mah BBB lain Bukan Bintang Biasa, tapi Bukan Bakso Biasa,” ujarku yang langsung disambut tawa rekan-rekan panitia. Karena bukan bakso biasa ini juga yang membuat kami memutuskan untuk nambah. Hmm, benar-benar raos pisan.

Selain ”bakso kreunyeus” tadi, Makasar masih banyak menyimpan keindahan alam dan kelezatan kulinernya. Siapa yang tidak kenal dengan indahnya Pantai Losari. Atau wisata Batimurung yang beberapa minggu kemarin diresmikan oleh presiden SBY. Ada juga arena permainan Trans Studio yang merupakan kawasan permainan terpadu terbesar se-Asia Tenggara. Namun bukan pantai losari atau trans studio yang membuat saya dan rekan-rekan rindu akan Makasar, melainkan nikmatnya BBB. Apalagi kalau bukan Bakso Kreunyeus yang memang Bukan Bakso Biasa. (Eko Haryono-Adhi Arsandi)

Selasa, 19 Oktober 2010

Journey to Kendari


Sekali Mengikuti Diklat, Dua Tiga Pulau Terlewati

Sungguh luar biasa animo peserta diklat Penguatan Kemampuan Pengawas Sekolah yang digelar di kota Kendari Sulawesi Tenggara. Dikarenakan letak geografisnya yang terdiri atas gugus-gugus kepulauan, Provinsi dengan luas daratan dan kepulauan kurang lebih 38.140 km2 ini membuat para peserta harus menempuh perjalanan yang tidak mudah.

”Kami harus menyeberang hingga beberapa pulau untuk tiba di kota Kendari,” aku salah seorang peserta yang berasal dari Kabupaten Wakatobi.

Diklat selama 6 hari yang dimulai sejak 27 September hingga 2 Oktober 2010 ini diikuti oleh 215 peserta yang terdidir dari 5 kabupaten/kota di Kendari. Yakni, Konawe Selatan (Konsel), Muba, Kolaka, Bombana, Wakatobi. Khusus Wakatobi, jarak yang ditempuh untuk menuju ke lokasi, yakni di LPMP Sulawesi Tenggara, memang cukup sulit.

”Peserta dari Wakatobi harus melalui 3 hingga 4 pelabuhan untuk tiba di kota Kendari,” terangnya lagi.

Kabupaten Wakatobi memang merupakan kawasan yang terdiri dari pulau-pulau yang untuk menghubungkannya memerlukan sarana transportasi laut menggunakan kapal fery atau kapal cepat. Wakatobi sendiri merupakan singkatan dari nama 4 pulau besar, yakni Pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Pulau Binongko.

Meski menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, animo peserta tetap tinggi. Terhitung, dari 215 peserta, hanya 4 orang peserta saja yang tidak hadir. ”Jujur saja, sudah lama sekali tidak ada kegiatan-kegiatan diklat seperti ini untuk pengawas,” aku seorang peserta di hadapan Kepala Pusat (Kapus) PPPPTK TK dan PLB, Dra. Hj. Teriska R. M.Ed. Untuk itu, Kapus menegaskan kepada peserta agar para pengawas senantiasa menambah ilmu pengetahuan dan wawasannya. ”Masa nanti pengawas kalah sama guru-guru,” ujarnya dalam sambutannya yang sekaligus membuka acara Diklat tersebut.

Diklat Penguatan Kemampuan Pengawas Sekolah mengacu pada Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 Tentang Guru dan Permendiknas Nomor 12 tahun 2007 Tentang Standar Kompetensi Pengawas Sekolah/Madrasah. Untuk itulah, dibuat suatu program yang diselenggarakan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan melalui PPPPTK dan LPMP dengan tujuan untuk penguatan kompetensi pengawas sekolah.

Seperti dikutip dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 tentang Guru pasal 15 ayat (4) huruf (d) dinyatakan bahwa kewajiban guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan adalah melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan tugas pengawasan. Oleh sebab itu, tugas pengawas satuan pendidikan adalah (1) melakukan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial dan (2) melakukan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dalam melaksanakan tugas pokoknya yaitu merencanakan, melaksanakan, dan menilai proses pembelajaran atau pembimbingan. Dengan kata lain pengawas sekolah berkewajiban untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Adapun materi-materi yang disampaikan berkisar mengenai PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan), PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dan materi-materi kepengawasan lainnya. Sedangkan yang menajadi narasumber atau fasilitator merupakan tim dari PPPPTK TK dan PLB Bandung dibantu oleh para Widyaiswara LPMP Sulawesi Tenggara.

Selama kegiatan berlangsung, semua materi yang disajikan fasilitator dilahap dengan antusias oleh para peserta. Hal ini tentaunya menambah semangat para fasilitator dalam memberikan materi.

”Sunggu luar biasa, peserta semuanya semangat sekali meski di sini sanagat panas,” aku Dr Benny Iskandar, salah seorang fasilitator dari PPPTK TK dan PLB.

Ya, panasnya suhu kota yang terkenal dengan kacang mete nya ini merupakan menu tambahan tersendiri bagi seluruh peserta dan juga panitia. Tentunya tim panitia yang berjumlah 10 orang, yakni bapak Undang Chaerudin, Adhi Arsandi, Aan Anita, Ibu Nonok Jelita, Baetu Ridwan, Dadan Suharno, I Ketut Muliarta dan bapak Ruslan harus bekerja ekstra pada diklat kali ini, bukan cuma karena udara panas, melainkan karena banyaknya peserta diklat (215) yang dibagi menjadi 5 kelas (A, B, C, D, dan E).

Kota Kendari Sepanas Ikan Baronang dan Sunu Bakar

Panas. Kata itulah yang langsung terucap saat tim PPPPTK TK dan PLB tiba di bandara Haluoleo, Kota Kendari Sulawesi Tenggara, Minggu (26/10/2010). Tim yang dipimpin langsung oleh Kepala Pusat PPPPTK TK dan PLB, Ibu Dra Hj. Teriska R, M.Ed mendarat di Bandara yang dulu bernama Wolter Monginsidi ini pada pukul 16.00 WITA.

Bandara Haluoleo, memang cukup sulit melafazkannya. Namun ternyata kata Haluoleo memiliki makna tersendiri di masyarakat Kendari. Saya pun menjadi penasaran. Setelah berbincang-bincang sejenak dengan seorang supir taxi, ternyata kata Haluoleo jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah delapan hari. Maksudnya merujuk pada sejarah dimana Raja yang hidupnya hanya bertahan selama delapan hari. Kata inilah yang akhirnya diabadikan menjadi nama bandara di provinsi Sulawesi Tenggara menggantikan nama sebelumnya, yakni Woltermonginsidi. Bandara Woltermonginsidi sendiri tetap ada, namun peruntukkannya kini hanya untuk TNI AU, sementara Haluoleo untuk bandara umum dan komersial.

Tim pun akhirnya tiba di lokasi, yakni LPMP Sulawesi Tenggara yang ternyata tidak begitu jauh dari bandara. Dengan dibantu oleh tim LPMP Sultra, seluruh rombongan dapat terangkut sampai tujuan dengan selamat. Namun, belum cukup melepas lelah, sebuah tawaran menggoda yang tidak mungkin dilwatkan. Apalagi kalau bukan makan menu khas Kendari.

Kurang dari 10 menit rombongan akhirnya singgah di sebuah rumah makan tapat di bibir pantai. Perut yang sudah keroncongan disambut oleh tumpukan ikan segar dan besar, udang segar, cumi dan hidangan laut lainnya. Sudah terbayang kelezatan menu yang akan disantap malam ini. Ya, apalagi kalau bukan ikan dan udang bakar. Saya memilih ikan Baronang sementara rekan-rekan lainnya memilih ikan Sunu dan udang untuk dibakar. ”Kalau ke kota Kendari, tidak lengkap kalau tidak menyantap ikan Sunu bakar,” ucap pak Agus Supriatna, salah satu fasilitator dengan semangat.

Ikan Sunu, satu lagi yang asing bagi saya. Kalau ikan Baronang sudah umum dan banyak dijumpai. Namun ikan Sunu, apa itu? Ternyata dari bentuknya, hamper mirip ikan Kakap dengan tekstru berwarna merah. Satu persatu ikan-ikan pesanan pun digelar dijejer dipemanggangan. Kontan asap serta aroma sedap bakaran ikan langsung terhirup. Hmmmm semakin memancing lambung dan usus dalam perut untuk bereaksi. Kalau sudah begini, otak-otak ikan hangat di meja menjadi korban. Hap…hap, seluruh rombongan larut menikmati lezatnya otak-otak. ”Sambil nunggu ikan matang,” timpal rekan-rekan sambil terus merobek lembaran-lembaran daun pisang pembungkus otak-otak.

Namun itu tidak bertahan lama. Karena hidangan utama, yakni ikan dan udang pesanan kami sudah hadir di depan mata. Uniknya, pengunjung di rumah makan ini diberi kebebasan untuk membuat sambal sendiri. Well, tak heran jika di meja terdapat pisau, bawang, tomat, serta cabai untuk kita olah. Setelah meracik sambal buatan sendiri, rombongan mulai menyantap ikan-ikan dan udang yang malam itu benar-benar pasrah untuk masuk ke dalam perut.

Ikan barongan segar yang dibakar membuat taste daging ikan begitu halus, tidak berbau amis, dan nikmat sekali. Belum lagi udang bakar yang begitu besar ukurannya. Dipadu dengan lalapan timun dan sepiring nasi hangat, begitu mengajak mulut untuk terus mengunyah dan menguyah. Megutip jargon dari salah satu acara kuliner terkenal di stasiun televisi, Mak Nyuss…!!! Panasnya suhu kota Kendari memang sebanding dengan panasnya ikan Baronang dan Sunu bakar. (adhi arsandi)

Lulus Juga


Alhamdulillah, selesai juga akhirnya...
Kini bisa kembali ke kantor di Bandung. Meski tidak sempurna tesis dan "hasil"nya tp gpp... yang penting bisa wisuda dan keluar dari dunia per teknik an..hahahaaha...

Buat temen-temen gemtek yang laen, yang awam program khususnya, terus semangat...!!!!

Senin, 11 Mei 2009

Sesuatu yang Baru

Sesuatu yang baru membut kita penasaran..Ini bener2 yang baru buat ku. Begini ceritanya...eng ing eng...

Tiba2..entah ada angin apa..aq mendadak dikirim ke surabaya buat belajar...WOW!!! mantap kan. Jurusan nya pun ruaarr biasa...ngoprek2 soal game...sapa yang ga seneng coba...

Namun, lambat laun...hikss..mengerikan...pelajaran yang benar2 tidak mampu dicerna.. mungkin hanya karena aq asal nya anak sosial..hahahah..yaialah...anak sos kok dicekokin matematika..vektor...pemrogaraman..MUMET...hahaha..sial nya..hampir separo tuh anak2 pada gak mudeng..

Nah, itu dia..sesuatu yang benar2 baru buat gua....eh aq ding..(ga sopan gua gua).
Skarang tinggal terima resikonya..ma gak mau ya harus LULUS...LULUS LULUS..AMIINN